Yang bernyawa pasti akan kembali lagi pada Allah SWT. Tuhan yang pertama kali menciptakan kita. Di akhir kematian nanti hanya ada dua macam, yaitu secara husnul khatimah (akhir yang baik) dan su'ul khatimah (akhir yang buruk). Semuanya itu tergantung kita saat dicabut nyawa nanti apakah kita sedang berbuat kebaikan atau malah keburukan. Apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memiliki iman yang kuat, dia akan selamat dari bujuk rayu setan. Kiai Ali pun menjelaskan, sebagaimana mengutip surat Ali Imran ayat 91 bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kafir tidak akan diampuni dosanya oleh Allah SWT dan akan mendapatkan siksa. ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su'ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri". (HR. Thabrani). Baca juga: Hujan menurut Islam; Bunuh Diri dalam Islam; Mengenal Diri Sendiri Dalam Islam 1. Memperpanjang Usia. Sedekah dapat memperpanjang usia, ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, "Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk (su'ul khotimah), Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri." Sebagian orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang muslim dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ternyata dapat mengalami su'ul khotimah. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ust. Amir As-Soronji, Lc. M.Pd.I.. mengutip cerita Shiddiq Hasan Khan dalam kajian yang diadakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Senin (22/6) melalui Google Meet. Dalam buku berjudul Alquran mengabadikan doa husnul khatimah untuk para hamba Allah SWT. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTAโ€” Semua umat Islam mengharapkan husnul khotimah, artinya kematian yang berakhir dalam kondisi yang baik dan diridhai Allah SWT. Sebaliknya, umat Islam tidak ingin mati dalam keadaan su'ul khatimah, artinya mati dalam keadaan durhaka kepada Allah SWT. Berikut ciri seseorang yang sudah dekat dengan kematian menurut Imam Ghozali. 1. Tubuh Merasa Menggigil. Pada 100 hari menjelang kematian, tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki akan merasakan getaran seperti menggigil. Tanda ini merupakan sebuah nikmat yang Allah berikan sebagai pengingat. 2. 2 Pentingnya Bersedekah: Bisa Memperpanjang Usia. Manfaat sedekah bagi kelangsungan hidup adalah bisa memanjangkan umur. Hal ini karena kualitas hidup seseorang akan meningkat jika sering melakukan sedekah, salah satunya sering merasakan hati yang tenang dan bahagia saat melakukannya. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya sedekahnya orang Kisah nyata kematian gembong narkoba Freddy Budiman akhirnya terkuak setelah dieksekusi di Pulau Nusakambangan, pada Jumat 29 Juli 2016 silam. Tak hanya dirinya, sejumlah terpidana mati lainnya seperti Gajetan Acena Seck Osmane (Afrika Selatan), Humprey Ejike dan Michael Titus Igweh (Nigeria), juga ikut meregang nyawa di hadapan regu tembak. Saudaraku perlu kiranya engkau tahu bahwa su'ul khotimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqomah, lemahnya iman, rusaknya i'tiqod (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat. LwUP. 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID 0oKWrP1LQRypr2ouUCAZZZ8NSMA1CRCHG62n2EiU6I91iLZOa3r5kw== loading... Kematian. Bila saja dapat diprediksi kapan ia datang, tahun berapa, dan hari apa, mungkin seseorang masih bisa mempersiapkan segala amal kebajikan untuk menghadapi apa pun setelah maut menjemput. Namun sayang, maut seringnya datang dengan tiba-tiba sehingga mau tidak mau, kita pun akan terkejut karena merasa belum siap untuk menghadap Allah. Baca Juga Mengingatkan tentang kematian Abu Nawas , pujangga Arab yang bernama asli Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami, dalam I'tirof sebagaimana dikutip Ahmad Abu Nizar dalam bukunya berjudul "Celupkan Hatimu ke Samudera Rindu-Nya The Wisdom of Abu Nawas" 2011 merekam dengan sangat menyentuh dalam syairnya Takutlah kepada Allah, wahai nafsu Usahakan kebajikan sungguh sungguh Siapa pun hanya mengumpulkan harta la tiada lepas dari duka dan nestapa Kala tubuh tak memiliki pembela Kan menebus dengan harta dan anaknya Baca Juga Rasulullah SAW bersabda bahwa amal yang menjadi tumpuan perhitungan nanti di akhirat adalah ketika seseorang dijemput maut, amal di akhir hayat. Inilah yang betul-betul harus kita perhitungkan adakah kita termasuk seseorang yang husnul khatimah atau suul keterangan Nabi tersebut Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa setiap orang akan dibangkitkan dalam kondisi persis seperti ketika ia mati mengenai bahagia ataupun celakanya. Dan kondisi kematian seseorang adalah persis sebagaimana ketika ia masih hidup. Di akhirat nanti, ia akan dibangkitkan sesuai dengan isi hatinya ketika ia hidup di dunia, bukan dari sosok tubuhnya. Dari sifat-sifat hati inilah mereka akan divisualisasikan dalam berbagai gambar konkret. Jika seseorang ketika hidupnya banyak memakai sifat anjing, maka nanti di akhirat akan dibangkitkan berupa anjing pula. Jadi, kondisi di akhirat nanti akan berbalik penuh. Anggota zahir yang tampak di dunia ini akan menjadi batin, dan apa yang batin serta bersemayam di hati ini ketika hidup di dunia akan tampak sejelas-jelasnya. Namun yang paling menentukan adalah apa yang dinamakan khatimah, yakni sebuah akhir kehidupan ketika seseorang mendapat predikat bahagia husn atau celaka su. Sebagaimana Rasulullah telah mengatakan โ€œSeluruh amal itu terserah penutup khatimah-nya.โ€ Artinya, jika seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia ini pada paruh awalnya selalu menjalankan kebajikan dan berbagai amal ibadah, tetapi ketika menjelang maut atau pada paruh akhirnya ternyata ia bergelimang dengan berbagai dosa dan kemaksiatan, maka catatan yang menjadi acuan sebagai orang bahagia atau celaka di akhirat nanti adalah amal ketika ia dijemput maut, yakni ketika ia menutup kehidupannya. Baca Juga Sebaliknya, jika seseorang dalam paruh awal kehidupannya ia selalu melakukan berbagai kejahatan, namun ketika mendekati ajal ia berbalik begitu rajin melaksanakan ibadah, maka yang menjadi acuan catatan bukunya di akhirat nanti adalah amal baik ketika maut menjemputnya. Ironisnya, maut seringkali datang mendadak, tidak peduli lagi apakah seseorang dalam kondisi penuh kebajikan ataupun kedurhakaan. Dalam kondisi akhir ini, seseorang tidak bisa memprediksi adakah ia mendapatkan predikat husnul khatimah ataupun suul khatimah. Mengantisipasi datangnya maut secara tiba-tiba, agar seseorang mendapatkan predikat husnul khatimah, jalan satu-satunya adalah selalu menapak jalan yang diridhoi Allah. Mempertebal keyakinan dan ketakwaan sebagai bekal berangkat menuju alam baka dalam setiap situasi dan kondisi. Jika sewaktu-waktu dijemput maut, maka engkau akan berada dalam kondisi selalu siaga dan tidak lagi terkejut, mengeluh, atau menyesal mengenai berbagai amal kebajikan yang belum sempat engkau laksanakan. Abu Laits as-Samarkandy mengatakan bahwa seseorang yang masih mempunyai rasa takut kepada Allah, memiliki ciri-ciri yang tidak kurang dari tujuh tanda itu akan tampak sekali pada lisannya. Ia tidak akan pernah menggunakannya untuk mengumpat, berdusta, atau ucapan lain yang tidak bermanfaat. Ia akan mempergunakannya untuk membaca Al-Qur'an, berzikir kepada Allah, atau untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat. Kedua, selalu menjaga urusan perut. Dengan demikian, ia tidak akan sembarangan memasukkan makanan apa saja yang didapat. Ia akan berusaha mendapatkan makanan halal, dengan ukuran sekadar cukup. Ketiga, selalu menjaga pandangan agar tidak melihat kepada apa pun yang dilarang agama. Tidak pula untuk melihat ke arah duniawi dengan pandangan tertegun keheranan, melainkan ia memandang semua itu sebagai 'ibrah pelajaran.